Suara Hati Daun

Hari demi hari aku terbawa angin.
Aku tidak lagi terlalu banyak mengeluh, meski kadang rasa kecewa itu masih datang diam-diam. Aku hanya mencoba bertahan, karena aku tahu, tidak ada satu pun yang benar-benar bisa kuatur.

Sampai suatu hari…
Angin membawaku jauh lebih tinggi dari biasanya. Aku terbang berputar, melayang lama di udara. Untuk pertama kalinya, aku bisa melihat pemandangan luas: sawah hijau, sungai berkilau, dan pepohonan yang menjulang gagah.

“Indah sekali…” bisikku, terpesona.
Aku baru sadar, kalau saja aku tidak pernah terbawa ke tempat-tempat asing itu, aku mungkin takkan pernah melihat dunia dari sudut setinggi ini.

Lalu, perlahan, angin menurunkanku.
Aku jatuh di atas tanah lembap, tepat di bawah naungan pohon besar. Tanah itu tidak terlalu kering, tidak pula terlalu basah. Ada rerumputan lembut yang menjadi alas, dan cahaya matahari menyelusup dari sela ranting dengan hangat.

Aku terdiam lama.
Tempat ini… nyaman.
Tempat ini… seakan menjawab seluruh keinginanku.

Air mataku yang tak kasatmata seolah menetes. Aku ingin tertawa, ingin berterima kasih. Ternyata, meski aku sering marah, kesal, dan kecewa, angin selalu tahu ke mana harus membawaku.

Kini aku mengerti.
Perjalanan ini memang bukan tentang memaksakan keinginanku, tapi tentang belajar percaya dan bertahan, hingga pada akhirnya aku menemukan rumahku sendiri.

Aku, sehelai daun, akhirnya tenang.
Bukan karena aku bisa memilih,
tetapi karena aku rela mengikuti.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *